image01
Uzumaki Naruto

Sage Mode

Naruto VS Sasuke

Siapa yang Terkuat?

Uchiha Sasuke

Mangekyou Sharingan

Source: http://www.amronbadriza.com/2012/06/cara-memberi-burung-twitter-terbang-di.html#ixzz2KDeNM0He
Sabtu, 26 November 2011

Dunia Wayang Adalah Cermin Dunia Kita peta dunia wayang Perjalanan imaginer itu telah membawa ke Dunia Wayang, saya pulang membawa cermin kepada anda....

0 komentar


Dunia Wayang Adalah Cermin Dunia Kita


Perjalanan imaginer itu telah membawa ke Dunia Wayang, saya pulang membawa cermin kepada anda....  

Saat dhalang hendak menampilkan adegan Harjuna yang sedang jatuh cinta, maka dikeluarkanlah wayang Harjuna yang berwanda 'kinanthi'.[1] Atau, saat dhalang hendak melakonkan Prabu Bala Dewa yang sedang dalam keadaan marah, maka dipakailah wayang Bala Dewa berwanda 'geger'.[2] Saat dhalang hendak menampilkan adegan 'Perang Kembang' dengan tokoh raksasa yang terkenal di seantero jagat karena buas, banyak gerak, dan cekatan; maka ia mengeluarkan wayang Cakil yang berwanda 'kikik'.[3] Saat adegan Gathut Kaca sedang marah, maka dipakailah wayang Gatut Kaca berwanda 'thathit'.[4] Sewaktu dhalang hendak menampilkan tokoh Bima Sena yang sedang mengamuk, maka dikeluarkankan wayang Bima Sena yang berwanda 'guntur'.[5] Lalu, pertanyaannya 'wanda' itu apa?

Dalam penjelasan ringkas yang mudah-mudahan gampang dipahami, 'wanda' dapat dijelaskan sebagai 'suatu gambaran atau bentuk rupa visual yang mewakili atau merefleksikan suatu suasana, emosi, atau kondisi tertentu'. Dalam bahasan yang lazim dikenal di dunia disain, 'wanda' dapat disetarakan dengan 'citra' (image). Jika seorang disainer produk hendak mendisain dan membuat suatu produk tertentu, maka lazimnya ia harus memikirkan, menganalisis, dan mengkonsepkan secara matang dan hati hati, sejumlah aspek disain. Salah satu aspek disain yang pada masa sekarang makin lama makin penting peran dan dominasinya, adalah 'citra disain' (design image). Mengapa hal ini penting untuk dipahami? Tidak lain, karena peran citra yang diterapkan pada disain suatu produk akan memegang peran yang sangat dominan, sehingga bisa membuat produk (benda) tersebut disukai oleh calon pemakai atau pemakainya. Suatu citra, biasanya diterapkan pada disain suatu produk, dengan tujuan supaya produk yang dihasilkan menarik, menyenangkan, atau sesuai dengan kesan yang diinginkan pemakainya.


Wayang dan Dalang
Thursday, 27-January-2011
Manusia berkesenian adalah untuk meraih keindahan sebagai wahana memperoleh pencerahan. Dari keindahan itu manusia memperoleh penghayatan tentang kebaikan dan keburukan, kebenaran dan kebatilan, dan sebagainya yang kesemuanya itu bermuara kepada kedewasaan, kepekaan, dan kecerdasan jiwani atau batiniah. Maka estetika dan etika merupakan dua aspek yang kuat menandai keberadaan salah satu unsur kebudayaan manusia yang disebut kesenian. Estetika adalah ilmu pengetahuan tentang keindahan, etika adalah ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan perihal kebaikan. Kedua aspek itulah di dalam dunia seni pedalangan yang secara sederhana dikatakan sebagai tontonan dan tuntunan.

Dunia Wayang Bagi Kita
Friday, 31-December-2010
Suatu ketika pernah beberapa waktu lalu saya berkesempatan berdiskusi dengan seseorang yang saya hormati. Beliau sepantaran dengan saya. Seiman dengan saya. Kebetulan memiliki pengetahuan agama Islam yang begitu dalam. Selalu melakukan syiar agama, berprofesi sebagai guru dalam sebuah pesantren dan sering dipercaya sebagai penceramah dalam acara acara pengajian dan semacamnya.

Sebuah pertanyaan dari beliau yang membuat saya tercenung kembali untuk menggali lagi pemahaman saya tentang wayang. Sebenarnya apa sih manfaat wayang bagi kehidupan? Begitu kira kira pertanyaan beliau. Cukup sulit bagi saya untuk membuka sebuah pendapat, karena saya yakin beliau paham betul apa yang dulu telah dilakukan oleh para Wali, ketika melakukan akulturasi budaya wayang dan memanfaatkannya sebagai media dakwah Islam. Saya yakin beliau juga paham betul, bagaimana seni pertunjukan wayang, sampai pada taraf tertentu bahkan sampai sekarang, masih menjadi sebuah alat pengkomunikasi nilai nilai yang cukup efektif bagi sebagian masyarakat kita.
Kembali ke Paranggelung
Saturday, 30-January-2010
Adakah yang mengecewakanmu Ngger anakku si Aswatama? Hingga tanpa pamit tanpa berita engkau tinggalkan begitu saja bapakmu ini dan bumi Sokalima. Tidakkah engkau menyayangiku Ngger? Apa salahku Tole?

Dalam kebingungan Durna menemui Harjuna, untuk memasrahkan anak semata wayang si Aswatama yang tanpa pamit telah meninggalkan Sokalima bersamaan dengan Ekalaya dan Anggraeni sahabatnya.

Harjuna, Harjuna, tolonglah aku, susullah Aswatama, dan ajak kembali, jangan perbolehkan ia pergi meninggalkan aku sendirian.

Melihat kecemasan dan kebinggungan sang guru, Harjuna merasa iba. Maka dengan serta-merta Harjuna menyanggupi untuk mencari Aswatama.dan segera berangkat meninggalkan Sokalima. Durna sedikit lega. Ia memandangi Harjuna hingga hilang dari pandangan, kemudian masuk ke ruang dalam untuk menenangkan hati. Jika sudah demikian tak ada cantrik yang berani mengganggu.

Dunia Wayang Kita Semua
Friday, 01-January-2010
Baru baru ini saya mendapat pertanyaan dari salah seorang sahabat saya. Sebuah pertanyaan yang bisa jadi menantang pemahaman saya akan 'close-up' dunia wayang yang selama ini saya angkat dalam novel novel saya. Pertanyaan yang membuat saya menggali kembali, dan sampai kepada pemahaman bahwa apa yang telah diupayakan para pujangga tanah Jawa begitu 'fit in' mengadopsi dan menggubah kisah dunia wayang ke dalam konteks budaya Jawa.

Pertanyaannya cukup sederhana, apa manfaat kelir dalam pagelaran wayang kulit. Kelir adalah layar putih yang memisahkan sosok wayang kulit dengan penontonnya. Sehingga wayang kulit yang begitu penuh warna, 'hanya' akan dilihat hitam putih bagi penontonnya. Bila anda mencoba mengamati lebih detail dan seksama sebuah wayang kulit karya seniman pengrajin wayang kulit. Dia menatah membuat lobang setiap detail wayang kulit dengan seksama, kemudian memberi warna setiap milimeter dengan ornamen yang dibuat harus bagus di setiap goresannya. Mengapa kemudian harus diperlihatkan secara hitam putih? Apakah yang dilakukan para pengrajin wayang itu sia sia?
Radheya (KARNA) - Masa kecil
Monday, 19-October-2009
Sambungan dari : Seputar Kelahiran Radheya/Karna

Beberapa hari berlalu sudah, keranjang kayu itu masih terhanyut dan diayun lembut dalam pelukan Sungai Gangga…

Di suatu desa kecil di wilayah Anga yang letaknya tak jauh dari dari istana tempat Kunti tinggal, hiduplah sepasang suami istri yang bernama Atiratha dan Radha, keduanya berasal dari kasta Suta [1]. Sesuai dengan kastanya, Atiratha sehari harinya bekerja sebagai pengemudi kereta perang (Sarathy) Raja Drishtharatha. Pasangan suami istri ini belum dikaruniai keturunan. Setiap hari mereka berdoa dan memohon pada Dewata supaya segera diberi seorang anak. Mereka begitu mendambakan kehadiran seorang anak yang pasti akan menyemarakkan rumah dan mewarnai kehidupan mereka sehari hari.
Destarastra Pemimpin yang Buta
Tuesday, 29-September-2009
Peristiwa Bale Sigalagala sangat menggemparkan seluruh kawula Hastinapura. Bukan karena bangunan yang elok asri itu ludes terbakar, tetapi terutama karena Anak anak Pandudewanata calon raja yang didambakan rakyat menjadi korban. Pandita Durna yang pada waktu kejadian belum berperan banyak selain sebagai guru dari warga Pandawa dan warga Korawa, ikut prihatin dan bersedih, pasalnya karena dua murid terbaiknya yakni Bimasena dan Herjuna menjadi korban.

Jika oleh banyak orang peristiwa Bale Sigalagala dicatat sebagai tragedi pilu umat manusia, namun tidak oleh Patih Sengkuni. Ludesnya Bale Sigalagala sama artinya dengan sirnanya penghalang yang merintangi ambisinya untuk mendudukan Doryudana di tahta Hastinapura. Oleh karenanya patut disambut dengan sukaria. Tetapi benarkah Sengkuni berhasil menyingkirkan para Pandawa? Memang sementara ini kawula Hastinapura mempercayai bahwa warga Pandawa telah mati.
Radheya (KARNA) - Seputar kelahiran
Friday, 18-September-2009
Ini adalah cerita singkat tentang kehidupan Radheya atau yang lebih dikenal dengan nama Karna di Indonesia... Radheya/Karna adalah salah satu tokoh terpenting dalam Mahabharata. Meskipun dia terkenal pendekar terhebat yang paling murah hati pada jamannya... tapi kehidupannya penuh cobaan sejak dari lahir.

Seputar kelahiran
Cerita ini bermula saat seorang puteri bernama Kunti masih tinggal di kerajaan ayah angkatnya, Raja Kuntibhoja. Di saat Kunti baru mulai menginjak usia remaja , seorang resi bernama Durvasa berkunjung dan tinggal di istana selama 1 tahun. Kunti ditugaskan oleh ayahnya untuk melayani Resi Durvasa agar sang resi merasa nyaman...
Kumbakarnakah Kita Ini?
Wednesday, 02-September-2009
Kumbakarna. Ah...Nama itu bagiku sudah tak asing lagi. Tentu kalian pun juga akan merasakan hal yang sama kalau telah akrab dengan kisah Ramayana.

Begitu mendengar namanya yang legendaris, kuyakin, kalian tidak akan membayangkan seorang lelaki muda yang klimis dan rapi seperti bintang sinetron. Kalian juga tak akan membayangkan seorang yang berjenggot panjang, memakai jubah dan surban yang melilit di kepala.

Yang kalian temukan hanyalah seorang raksasa. Ya, raksasa. Lengkap dengan perut gemuknya, dengan taring panjangnya, dengan rambut gimbalnya dan dengan tubuh besarnya.
Tokoh Semar bukan ciptaan Sunan Kalijaga
Thursday, 23-July-2009
Masih banyak masyarakat Indonesia yang mengira bahwa Semar adalah ciptaan Sunan Kalijaga. Pendapat tersebut amat keliru karena membaca atau mendengar dari sumber yang salah, atau sengaja memutar balikkan fakta. Tokoh Semar sudah ada pada zaman Pra Islam. Tokoh Semar pertama kali ditemukan dalam karya sastra zaman Kerajaan Majapahit berjudul Sudamala. Selain dalam bentuk kakawin, kisah Sudamala juga dipahat sebagai relief dalam Candi Sukuh yang berangka tahun 1439.

Semar atau lengkapnya Kyai Lurah Semar Badranaya adalah nama tokoh panakawan paling utama dalam pewayangan Jawa dan Sunda. Tokoh ini dikisahkan sebagai pengasuh sekaligus penasihat para kesatria dalam pementasan kisah kisah Mahabharata dan Ramayana. Tentu saja nama Semar tidak ditemukan dalam naskah asli kedua wiracarita tersebut yang berbahasa Sansekerta, karena tokoh ini merupakan asli ciptaan pujangga Jawa.
Read more...
Rabu, 23 November 2011

DALANG DI BALIK WAYANG

0 komentar
    Di antara berbagai jenis kesenian tradisional yang hidup dan berkembang di Indonesia, wayang tampaknya masih menunjukkan eksistensinya. Berbagai pagelaran wayang masih terus dilakukan sampai saat ini, di berbagai tempat, pada berbagai kesempatan, dan oleh berbagai kalangan baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara rutin pagelaran wayang disiarkan baik oleh televisi maupun radio, dan program acara tersebut mendapat apresiasi yang cukup baik dari pemirsa atau pendengarnya.
            Kenyataan tersebut paling tidak membuktikan bahwa wayang (seni pewayangan) masih tetap eksis di tengah masyarakat penontonnya. Wayang memang telah dikenal luas dan didukung oleh sebagian besar masyarakat Indonesia karena memiliki corak dan sifat yang khas serta mengandung nilai-nilai budaya yang tinggi.

Eksistensi Wayang

Wayang merupakan salah satu warisan budaya bangsa yang telah mampu bertahan, dari waktu ke waktu, dengan mengalami perubahan dan perkembangan sampai berbentuk seperti sekarang ini. Daya tahan wayang yang luar biasa terhadap berbagai perubahan pemerintahan, politik, sosial budaya maupun kepercayaan membuktikan bahwa wayang mempunyai fungsi dan peranan penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Saat ini, fungsi dan peranan wayang tidak lagi difokuskan pada upacara-upacara ritual dan keagamaan, tetapi telah bergeser ke acara “Hiburan” (dengan H-besar) yang mengutamakan inti cerita dengan berbagai macam pengetahuan, filsafat hidup, nilai-nilai budaya, dan berbagai unsur seni yang semuanya berpadu dalam seni pedalangan.
Singkatnya, dengan kadar seni pedalangan yang cukup mantap dan sifatnya yang multi-dimensional, wayang telah banyak memikat masyarakat penontonnya. Bagi mereka, wayang dapat merupakan hiburan yang seringan-ringannya, tetapi juga dapat menjadi bahan pemikiran yang sedalam-dalamnya.
Wayang memang telah ikut serta mendewasakan masyarakat dengan jalan membekalinya dengan konsepsi-konsepsi yang mudah dihayati dan diresapkan dalam mengatasi berbagai persoalan hidup. Filsafat pewayangan membuat masyarakat penontonnya merenungkan hakekat hidup, asal dan tujuan hidup, manunggaling kawula gusti, kedudukan manusia dalam alam semesta, serta sangkan paraning dumadi yang dilambangkan dengan tancep kayon oleh ki dalang pada akhir pagelaran (Wibisono, 1993).
Berbeda dengan berbagai jenis kesenian tradisional lainnya, pagelaran wayang lebih banyak menyampaikan pesan rohaniah daripada pesan lahiriah (Sutarno, 1991). Dengan menonton wayang, kita diajak aktif, berfikir untuk memilah-milah, di manakah posisi kita saat ini. Nilai kemanusiaan dan berbagai pemikiran filosofis yang disampaikan para tokohnya, termasuk para punakawan, sering-sering bersifat sinamudana, tersamar, sehingga penonton tidak akan beranjak dari tempat duduknya meskipun lakon yang digelar mungkin pernah dilihatnya, bahkan mungkin lebih dari sekali-dua kali. Kalaupun mereka terkena sindiran karena dalang mengisahkan lakon yang kebetulan mirip dengan kisah kehidupannya, seringkali hal itu justru dianggap sebagai teguran halus, pangeling-eling, agar kita sadar akan kesalahan yang telah dilakukan. Alam pewayangan sering dijadikan sandaran atau pedoman sikap dan tingkah laku, bahkan karena begitu kuatnya mempengaruhi alam pikirannya sehingga merupakan sistem nilai budaya yang di antaranya didukung secara turun-temurun, diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya (Wibisono, 1993).
Dalam kakawin Arjunawiwaha, karya Mpu Kanwa seorang pujangga kraton pada masa pemerintahan Raja Airlangga di Jawa Timur, pada abad XI (1019-1042), Bab V bait 9, terdapat kalimat sebagai berikut:
Hananonton ringgit manangis asekel muda hidepan huwus wruh tuwin yan walulang inukir molah angucap hatur ning wang tresneng wisaya malaha ta wihikana ri tatwa nyan maya sahana-hana ning bawa siluman.

Artinya kira-kira:
Orang yang menonton wayang menangis, terpesona dan sedih meskipun sudah tahu bahwa yang ditonton itu hanyalah kulit dipahat, diberi bentuk manusia, dapat bertingkah dan berbicara. Yang menonton ibarat orang yang tamak akan harta dunia yang nikmat. Akibatnya mereka tergerak hatinya, tidak tahu bahwa sebenarnya hanya bayangan yang tampil laksana siluman belaka.

Dari kalimat di atas dapat disimpulkan sejak abad XI itu, pagelaran wayang telah mempesonakan penonton sampai mereka kehilangan keseimbangan emosinya (Haryanto, 1991).
Bagi orang  Jawa, eksistensi wayang (baca: wayang kulit) menempati kedudukan yang lebih spesifik. Karkono Partokusumo, seorang budayawan Jawa terkemuka, mengatakan bahwa wayang di Jawa mempunyai hakekat dan kandungannya sendiri. Kandungan wayang yang serba lambang, pada hakekatnya menunjukkan jati diri dan kepribadian  Jawa yang khas. Berbagai peralatan pagelaran wayang seperti kelir, gedebog, blencong, cempala dan sebagainya, semuanya merupakan ciptaan  orang Jawa yang mengandung makna-makna tertentu.
Selain itu, wayang-wayang tertentu merupakan lambang yang berbicara dalam filsafat Jawa. Misalnya saja, kayon atau kekayon atau gunungan. Gambar pohon dalam kayon melambangkan pohon surga, pohon kehidupan, pohon budi (pengetahuan), kalpataru (pohon penghargaan) dan merupakan bagian utama dari kayon, yang diartikan sebagai sumber pengetahuan atau pohon pengayom. Ada juga yang mengartikan bahwa kayon melambangkan kehidupan di dunia yang fana. Hal itu dihubungkan dengan tancep kayon sebagai sangkan paraning dumadi (kembali ke asal muasal). Masih banyak interprestasi lain tentang kayon, baik yang bersifat filosofis maupun mistis.
Tegasnya, keseluruhan pagelaran wayang, sejak dari pembukaan (talu) sampai berakhirnya pagelaran dengan tancep kayon, mempunyai kandungan filosofis yang tinggi. Tiap adegan dengan iringan gending sendiri-sendiri dan makin lama makin meningkat laras dan iramanya sehingga mencapai klimaks yang ditandai dengan tancep kayon, setelah semua masalah di dalam lakon terjawab dan berhasil diselesaikan. Kesemuanya itu menggambarkan kompleksitas kehidupan manusia di dunia ini dengan segala aspek dan dinamikanya, yang tidak lepas dari peran dan kedudukan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan maupun sebagai makhluk sosial.

Eksistensi Dalang

Dalam pagelaran wayang, dalang menempati peran dan posisi yang sangat sentral. Ungkapan Jawa dhalange mangkel, wayange dipendem menunjukkan betapa besar peranan dalang dalam pagelaran wayang. Dalang merupakan sutradara sekaligus tokoh utama dalam pagelaran. Ia adalah penutur kisah, penyanyi lagu (suluk) yang mengajak memahami suasana pada saat-saat tertentu, pemimpin suara gamelan yang mengiringi, dan di atas segalanya, dalang merupakan pemberi jiwa pada wayang atau pelaku-pelaku manusianya (Von Groenendael, 1987).
Pada zaman dahulu, peranan dalang tidak terbatas sampai disitu. Sesuai dengan fungsi pewayangan sebagai upacara ritual dan keagamaan, yaitu untuk menyembah atau menghormati arwah leluhur, dalang pun dipandang sebagai penghubung antara manusia dengan jagat besar (makro-kosmos), antara komunitas dengan dunia spiritual. Oleh karenanya, dalang mempunyai tempat dan kedudukan yang terhormat dalam kehidupan masyarakat.
Lalu bagaimana posisi dan peranan dalang saat ini? Sesuai dengan perubahan dan perkembangan wayang yang saat ini telah beralih menjadi upacara modernisasi, meminjam istilah James L. Peacock dalam bukunya Rites of Modernization : Symbolic and Sosial Aspect of Indonesia Proletarian Drama, dalang pun mendapat peran baru yang tetap tidak menghilangkan pamornya di masyarakat. Saat ini, wayang diharapkan menjadi sarana komunikasi yang dapat menyampaikan konsepsi-konsepsi dan ide-ide baru yang sesuai dengan gerak langkah pembangunan. Sesuai dengan sifat pagelaran wayang yang multi-dimensional, maka para dalang sebagai figur utama dan sentral, sudah sewajarnya dapat tampil dalam berbagai peranan, sebagai komunikator, seniman, pendidik masyarakat, penghibur, juru penerang ataupun kritikus sosial.
Sebagai seniman, dalang dituntut penguasaannya atas unsur-unsur seni pedalangan, yang mencakup seni drama, seni rupa, seni kriya, seni sastra, seni suara, seni karawitan  dan seni gaya. Dalang pun harus menguasai 12 bidang keahlian yang merupakan persyaratan klasik tradisional yang sangat berat tetapi mendasar (Haryanto, 1988), yaitu : Antawacana, Renggep, Enges, Tutug, Pandai dalam sabetan, Pandai melawak; Pandai amardawa lagu, Pandai amardi basa, Faham Kawi Radya, Faham Parama Kawi, Faham Parama Sastra, dan Faham Awi Carita.
Dengan menguasai 12 persyaratan tersebut, diharapkan dalang menjadi tangguh dan sanggit, mampu menangkap selera dan suasana penonton, sanggup dan peka terhadap situasi dan kondisi masyarakat di mana wayang dipagelarkan. Sebagai seniman, dalang dapat ikut serta memupuk apresiasi seni masyarakat penontonnya dalam mencintai dan melestarikan budaya tradisi, sehingga penetrasi kebudayaan asing yang negatif dapat dicegah ataupun dikurangi. Usaha ini akan berjalan efektif apabila dalang terus berusaha membekali diri serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya, sehingga ia mampu mengajak masyarakat penontonnya kepada wawasan pemikiran yang lebih luas dan maju.
Bagaimanapun, pagelaran wayang akan menjadi menarik atau tidak, bergantung pada keterampilan dan kreativitas dalang dalam membawakan cerita, baik yang bersumber pada pakem pedalangan maupun cerita-cerita carangan (gubahan). Dengan demikian, melalui metode yang khusus dan gaya penyajian yang khas, dalang sekaligus telah mampu berperan sebagai pendidik masyarakat.
Seperti diketahui, wayang sebagai kesenian tradisional telah berakar pada kebudayaan masyarakat setempat, sehingga antara dalang dan wayang sebagai sumber dan media di satu pihak, dengan masyarakat penonton sebagai khalayak sasaran di lain pihak terdapat derajat homofili yang cukup tinggi. Ini berarti antara dalang dan masyarakat penontonnya terdapat berbagai kesamaan, yang antara lain mencakup nilai-nilai, kepercayaan, status sosial,dan sebagainya. Derajat homofili yang tinggi dalam pemanfaatan wayang memungkinkan ‘pesan-pesan’ yang disampaikan mudah disesuaikan dengan situasi dan kondisi khalayak sasaran.
Karakteristik lain dari pagelaran wayang, sebagaimana pagelaran kesenian tradisional umumnya, adalah adanya suatu bentuk teatral yang menonjol yang memungkinkan terciptanya komunikasi yang baik dan bersifat ‘dua-arah’ antara dalang dengan penontonnya. Memang, hakekat kesenian tradisional adalah adanya prinsip bahwa penonton merupakan bagian dari pentas itu sendiri. Dalam kondisi seperti ini, dalang sebagai komunikator secara cepat dapat mengetahui bagaimana reaksi (umpan balik) dari penonton terhadap pesan-pesan yang disampaikannya, baik isi dan atau cara penyampaiannya, apakah diterima atau sebaliknya ditolak. Hal itu memungkinkan dalang yang jeli dan terampil dapat mengontrol dan mengembangkan permainannya, sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima oleh penonton sebagai suatu kewajaran (tanpa unsur paksaan).
Singkatnya, pemanfaatan wayang sebagai media komunikasi memungkinkan adanya daya vibrasi yang tinggi sehingga pesan yang disampaikan mudah diserap, diinterpretasikan serta mampu menghasilkan efek yang segera (vibral). Menurut Rakhmat (1996), efek yang segera sangat penting untuk efektivitas suatu komunikasi.  
Sebagaimana kesenian tradisional pada umumnya, terutama yang mempunya unsur dialog, pagelaran wayang juga mempunyai flesibilitas penyampaian pesan yang cukup tinggi. Tantangan yang muncul bagi para dalang adalah bagaimana mengembangkan materi-materi tambahan ke dalam suatu lakon, melalui proses penyaringan dan improvisasi, tanpa merusak pakem cerita secara keseluruhan. Jangan sampai hal tersebut justru akan menimbulkan “boomerang-effect” dari khalayak penonton. Pesan dan gerak anak wayang yang dimainkan hendaknya selalu mengikuti perkembangan zaman. Dalang sebagai juru penerang harus mampu membawakan pesan, issue, yang sedang hangat berkembang di tengah-tengah masyarakat.
Pada dasarnya segala nilai kehidupan, apa pun masalahnya, dapat diangkat kedalam lakon wayang, baik nilai estetis maupun nilai religiusnya. Daya tarik penyajian fenomena yang berkembang di tengah masyarakat seperti tentang masalah disiplin, kebersihan, Keluarga Berencana, kesehatan, AIDS, koperasi, tertib lalu lintas ataupun siskamling sangat bergantung kepada keterampilan dalang dalam meramu sajian. Yang tak kalah pentingnya adalah perhatian dalang terhadap situasi lokasi pagelaran (misalnya kantor pemerintah atau pemukiman penduduk) serta pada pertemuan apa pagelaran dilaksanakan (peringatan, jagongan atau peresmian sesuatu). Hal itu sebenarnya merupakan materi yang tidak akan pernah habis untuk digali dan selalu variatif. Materi-materi tersebut merupakan aksesoris, pelengkap, pada pakem pedalangan sehingga pagelaran wayang tetap digemari masyarakat penontonnya.
Sementara itu, karena sifat hiburannya, pagelaran wayang sering menyerap banyak penonton. Unsur-unsur hiburan yang mewarnai pagelaran wayang antara lain lagu-lagu kegemaran penonton, teknik memainkan wayang (lincah dan mahir), dan tentu saja yang paling menonjol adalah lawakannya baik tokoh punakawan maupun tokoh-tokoh lainnya. Kenyataan itulah antara lain yang mendorong beberapa dalang untuk melakukan berbagai improvisasi, khususnya dalam seni pakeliran. Para penonton sering memberikan reaksi yang mendukung kepada dalang yang mengadakan perubahan dan penyimpangan tetapi menggembirakan, daripada dalang yang patuh kepada pakem pedalangan tetapi terlalu serius dan kaku. Masyarakat penonton menginginkan hal-hal baru, sementara di lain pihak para dalang berusaha menempati unsur regu, yaitu ia harus dapat membuat pakeliran yang tidak membosankan (Sutarno, 1991). Hal seperti inilah yang antara lain dipertontonkan dalang beken Ki Anom Suroto, yang sering menyelipkan lagu-lagu rock ‘n roll dalam setiap adegan goro-goro atau lagu-lagu berlirik bahasa Inggris dengan iringan gamelan. Langkah yang hampir sama dilakukan dalang setan Ki Manteb Sudarsono melalui sajian sabetannya.
Improvisasi yang dilakukan beberapa dalang sebenarnya hanya merupakan variasi, selingan, tanpa mengurangi kualits pagelaran  wayang. Hal itu sekaligus merupakan salah satu cara agar wayang tetap digemari masyarakat penonton, terutama oleh kalangan muda. Terlepas dari kontroversi yang muncul, improvisasi yang dilakukan merupakan usaha positif bagi perkembangan dan pelestarian seni pewayangan, khususnya seni pakeliran. Tentu saja, hal itu harus dilakukan dengan tetap memperhatikan dan menjaga nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
Tugas para dalang untuk menyajikan pakeliran yang mampu  memadukan nilai etika dan estetika, yang sekaligus mewujudkan konsep keseimbangan dalam fungsi pewayangan, yaitu antara fungsi tontonan dan tuntutan, antara fungsi hiburan dan pendidikan.

Catatan Penutup

Dalam era globalisasi saat ini, tantangan untuk mempertahankan eksistensi wayang dengan dalang sebagai ujung tombaknya, sebagai salah satu warisan budaya nasional, terasa semakin berat. Masalhnya sekarang adalah bagaimana kita harus menentukan sikap sehingga nilai-nilai tradisional yang positif dapat terus dipertahankan dan dikembangkan, sekaligus mencegah atau mengurangi berkembangnya nilai-nilai baru yang negatif.
Pemanfaatan wayang sebagai salah satu media komunikasi pembangunan merupakan langkah yang sangat positif dan bijaksana, sekaligus akan memberikan  manfaat ganda. Pertama, secara langsung hal itu merupakan usaha untuk memelihara, mengembangkan dan melestarikan wayang yang merupakan warisan nilai budaya nenek moyang bangsa. Apalagi jika diingat bahwa kemajuan yang sangat pesat dalam bidang teknologi dan informasi telah melahirkan berbagai kecenderungan baru dalam kehidupan masyarakat saat ini.
Kedua, wayang sebagai suatu bentuk kesenian tradisional telah berakar kuat dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, maka ia relatif memiliki kedekatan-kedekatan nilai, kepercayaan, tradisi dan sebagainya dengan masyarakat setempat. Sebagai kesenian tradisional, wayang pun relatif memiliki kapasitas tinggi untuk “dititipi” pesan-pesan pembangunan, sehingga eksistensinya sebagai media komunikasi tidak hanya pelengkap tetapi merupakan “mitra sejajar” dari berbagai media komunikasi modern yang selama ini digunakan, baik media elektronika maupun media cetak.
Sementara itu untuk meningkatkan kualitas dalang, tampaknya para dalang perlu diberi kesempatan yang lebih luas untuk melakukan pagelaran secara berkesinambungan. Penyediaan berbagai sarana dan prasarana seperti gedung  pertunjukan yang representatif dengan biaya sewa yang relatif murah, akan sangat membantu terlaksananya usaha tersebut. Kesempatan lain bagi para dalang untuk memperlihatkan dan meningkatkan kreasi dan keterampilannya adalah areana festival, seperti Festival Greget Dalang yang pernah diadakan di Solo, di mana para dalang dapat berkompetisi secara sehat dengan dalang-dalang lainnya serta tanggap dan bisa mengikuti perkembangan yang terjadi. Dalang-dalang yang berkualitas diharapkan mampu tampil sebagai komunikator yang tangguh dan siap menjawab tantangan perkembangan zaman. Dalang-dalang berkualitas merupakan ujung tombak untuk menegaskan citra pagelaran wayang, yang belakangan ini seringkali kalah pamor oleh pagelaran berbagai jenis kesenian lain yang lebih modern.
Lebih jauh, perlu pula dipikirkan adanya suatu “forum dialog” yang bisa dilaksanakan secara rutin dan berkesinambungan, baik yang berupa seminar, saresehan, lokakarya ataupun yang lainnya. Dalam kesempatan tersebut bisa dipertemukan para praktisi, teoritisi juga peminat dan pecinta wayang untuk bertukar pikiran, sehingga berbagai masukan untuk pengembangan dan pelestarian seni pewayangan.
Usaha-usaha tersebut merupakan pekerjaan besar, yang memerlukan proses panjang. Perlu adanya komitmen dan kerjasama dari berbagai pihak yang berkepentingan, baik dari para pendukung pagelaran wayang (niyaga, pesinden, dan terutama dalang), peminat dan pecinta wayang dan juga pemerintah khususnya departemen-departeman terkait. Dengan adanya komitmen dan kerjasama ini diharapkan wayang, sebagai salah satu warisan budaya nasional, dapat terus dipelihara dan dipertahankan eksistensinya, bahkan dikembangkan untuk dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

 

Read more...
Rabu, 16 November 2011

Beragam Jenis Wayang Terancam Punah

0 komentar
  Beragam jenis wayang di Indonesia terancam punah. Dari sekitar 100 jenis wayang di Indonesia, kini tinggal beberapa jenis saja yang masih dipagelarkan. Upaya pelestarian terkendala dana dan minimnya dukungan masyarakat.
 
"
Pemerintah seharusnya memiliki strategi menyelamatkan wayang dari kepunahan. Salah satunya mengenalkan seni tradisi ini di sekolah-sekolah. Pemerintah seharusnya juga bisa mendorong wayang sebagai bagian dari industri pariwisata."

Menurut Eko Tjipto, Ketua Umum Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi), sekarang ini beberapa jenis wayang dimainkan karena masih memiliki masyarakat pendukungnya, antara lain wayang kulit purwa gaya Jawa Timur, Surakarta, Yogyakarta, Cirebon dan Banyumas ; wayang golek Sunda, wayang Bali, wayang Sasak (Lombok), wayang Kancil yang berkisah tentang dunia binatang, dan lain-lain. Beberapa jenis wayang lainnya, seperti wayang Jemblung (Banyumas), wayang Klithik dan Krucil (Jawa Timur), wayang Gedhog (Jawa Tengah), wayang Banjar (Kalimantan), dan lain-lain sudah nyaris punah. Bahkan, punah.
"Harus ada campur tangan pemerintah untuk ikut melestarikan wayang, terutama wayang yang sudah tidak memiliki masyarakat pendukungnya," kata Tjipto, Senin (18/7), di sela-sela acara pra pegelaran Festival Dalang Bocah tingkat Nasional di Jakarta. Festival yang akan diadakan 21-23 Juli 2011 di Museum Bank Indonesia ini salah satu upaya mengenalkan kembali seni tradisi wayang di kalangan generasi muda.
Wayang sudah ada di Indonesia sejak masa pra sejarah. Seni tradisi ini menjadi salah satu akar pembentuk jati diri bangsa Indonesia.
Pemerintah Singapura yang tradisi wayangnya tidak mengakar seperti di Indonesia, bahkan menjadikan wayang, salah satunya wayang kulit purwa Indonesia, sebagai bagian dari pembentuk identitas bangsanya. Negara itu membangun museum wayang yang sebagian koleksinya adalah wayang Indonesia.
Tjipto mengatakan, pemerintah seharusnya memiliki strategi menyelamatkan wayang dari kepunahan. Salah satunya mengenalkan seni tradisi ini di sekolah-sekolah. Pemerintah seharusnya juga bisa mendorong wayang sebagai bagian dari industri pariwisata.
"Wayang jangan hanya berkembang di Jakarta, tetapi seharusnya juga di daerah-daerah. Minimal dengan menjadikan wayang sebagai tontonan wisatawan agar beragam jenis wayang tetap hidup," ungkap Tjipto.
Secara terpisah, Ketua Umum Sena Wangi, Solichin, mengatakan, bahasa menja di kendala pelestarian wayang di kalangan generasi muda karena sekarang ini ada kecenderungan anak-anak tak lagi memahami bahasa ibunya. Sesuai perkembangan zaman wayang memang mengalami pergeseran bahasa. Namun, lanjut Solichin, pergeseran itu tak bisa dipaksakan. "Biarkan wayang berakulturasi dalam bahasa agar tidak kehilangan roh nya," kata dia.
Read more...
Sabtu, 12 November 2011

Tokoh Wayang

0 komentar

Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Batara Guru

Bathara GuruBatara Guru (Manikmaya, Dewa Siwa) merupakan Dewa yang merajai kahyangan. Dia yang mengatur wahyu kepada para wayang, hadiah, dan ilmu-ilmu. Batara Guru mempunyai sakti (istri) Dewi Uma, dan mempunyai beberapa anak.
Berikut adalah urutan anak-anak Batara Guru, dimulai dari yang paling sulung (menurut tradisi wayang Jawa):
  1. Batara Sambu
  2. Batara Brahma
  3. Batara Indra
  4. Batara Bayu
  5. Batara Wisnu
  6. Batara Ganesha
  7. Batara Kala
  8. Hanoman
Lanjut Baca »

Batara Ganesha

GanapatiGanesa adalah salah satu dewa terkenal dalam agama Hindu dan banyak dipuja oleh umat Hindu, yang memiliki gelar sebagai Dewa pengetahuan dan kecerdasan, Dewa pelindung, Dewa penolak bala/bencana dan Dewa kebijaksanaan. Lukisan dan patungnya banyak ditemukan di berbagai penjuru India; termasuk Nepal, Tibet dan Asia Tenggara. Dalam relief, patung dan lukisan, ia sering digambarkan berkepala gajah, berlengan empat dan berbadan gemuk. Ia dikenal pula dengan nama Ganapati, Winayaka dan Pilleyar. Dalam tradisi pewayangan, ia disebut Bhatara Gana, dan dianggap merupakan salah satu putera Bhatara Guru (Siwa). Berbagai sekte dalam agama Hindu memujanya tanpa mempedulikan golongan. Pemujaan terhadap Ganesa amat luas hingga menjalar ke umat Jaina, Buddha, dan di luar India.[1]
Lanjut Baca »

Hanoman

God HanumanHanoman (Sanskerta: Hanuman) atau Hanumat, juga disebut sebagai Anoman, adalah salah satu dewa dalam kepercayaan agama Hindu, sekaligus tokoh protagonis dalam wiracarita Ramayana yang paling terkenal. Ia adalah seekor kera putih dan merupakan putera Batara Bayu dan Anjani, saudara dari Subali dan Sugriwa. Menurut kitab Serat Pedhalangan, tokoh Hanoman sebenarnya memang asli dari wiracarita Ramayana, namun dalam pengembangannya tokoh ini juga kadangkala muncul dalam serial Mahabharata, sehingga menjadi tokoh antar zaman. Di India, hanoman dipuja sebagai dewa pelindung dan beberapa kuil didedikasikan untuk memuja dirinya.
Lanjut Baca »

Batara Kala

Tokoh Wayang Dalam ajaran agama Hindu, Kala adalah putera Dewa Siwa yang bergelar sebagai dewa penguasa waktu (kata kala berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya waktu). Dewa Kala sering disimbolkan sebagai rakshasa yang berwajah menyeramkan, hampir tidak menyerupai seorang Dewa. Dalam filsafat Hindu, Kala merupakan simbol bahwa siapa pun tidak dapat melawan hukum karma. Apabila sudah waktunya seseorang meninggalkan dunia fana, maka pada saat itu pula Kala akan datang menjemputnya. Jika ada yang bersikeras ingin hidup lama dengan kemauan sendiri, maka ia akan dibinasakan oleh Kala. Maka dari itu, wajah Kala sangat menakutkan, bersifat memaksa semua orang agar tunduk pada batas usianya.
Lanjut Baca »

Batara Indra

Batara IndraDalam ajaran agama Hindu, Indra adalah dewa cuaca dan raja kahyangan. Oleh orang-orang bijaksana, ia diberi gelar dewa petir, dewa hujan, dewa perang, raja surga, pemimpin para dewa, dan banyak lagi sebutan untuknya sesuai dengan karakter yang dimilikinya. Menurut mitologi Hindu, Beliau adalah dewa yang memimpin delapan Wasu, yaitu delapan dewa yang menguasai aspek-aspek alam.
Dewa Indra terkenal di kalangan umat Hindu dan sering disebut dalam susastra Hindu, seperti kitab-kitab Purana (mitologi) dan Itihasa (wiracarita). Dalam kitab-kitab tersebut posisinya lebih menonjol sebagai raja kahyangan dan memimpin para dewa menghadapi kaum raksasa. Indra juga disebut dewa perang, karena Beliau dikenal sebagai dewa yang menaklukkan tiga benteng musuhnya (Tripuramtaka). Ia memiliki senjata yang disebut Bajra, yang diciptakan oleh Wiswakarma, dengan bahan tulang Resi Dadici. Kendaraan Beliau adalah seekor gajah putih yang bernama Airawata. Istri Beliau Dewi Saci.
Lanjut Baca »

Batara Wisnu

Vishnu 2Dalam ajaran agama Hindu, Wisnu (disebut juga Sri Wisnu atau Narayana) adalah Dewa yang bergelar sebagai shtiti (pemelihara) yang bertugas memelihara dan melindungi segala ciptaan Brahman (Tuhan Yang Maha Esa). Dalam filsafat Hindu Waisnawa, Ia dipandang sebagai roh suci sekaligus dewa yang tertinggi. Dalam filsafat Adwaita Wedanta dan tradisi Hindu umumnya, Dewa Wisnu dipandang sebagai salah satu manifestasi Brahman dan enggan untuk dipuja sebagai Tuhan tersendiri yang menyaingi atau sederajat dengan Brahman.
Lanjut Baca »

Batara Brahma

Batara BrahmaMenurut ajaran agama Hindu, Brahma (Dewanagari: Brahma) adalah Dewa pencipta. Dalam filsafat Adwaita, ia dipandang sebagai salah satu manifestasi dari Brahman (sebutan Tuhan dalam konsep Hinduisme) yang bergelar sebagai Dewa pencipta. Dewa Brahma sering disebut-sebut dalam kitab Upanishad dan Bhagawadgita.
Lanjut Baca »

Semar

Semar Wayang JawaKyai Lurah Semar Badranaya adalah nama tokoh panakawan paling utama dalam pewayangan Jawa dan Sunda. Tokoh ini dikisahkan sebagai pengasuh sekaligus penasihat para kesatria dalam pementasan kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana. Tentu saja nama Semar tidak ditemukan dalam naskah asli kedua wiracarita tersebut yang berbahasa Sansekerta, karena tokoh ini merupakan asli ciptaan pujangga Jawa.
Lanjut Baca »

Silsilah Mahabarata

Definisi Silsilah
Menurut Kamus Basa Sunda oleh M.A. Satjadibrata, arti silsilah itu ialah rangkaian keturunan seseorang yang ada kaitannya dengan orang lain yang menjadi istrinya dan sanak keluarganya. Silsilah tersebut adalah merupakan suatu susunan keluarga dari atas ke bawah dan ke samping, dengan menyebutkan nama keluarganya.
Arti silsilah itu bersifat universal, yang artinya orang-orang di seluruh dunia mempunyai silsilah keturunannya dan pula, di seluruh benua akan dimaklumi, bahwa semua orang pasti akan mengagungkan leluhurnya. Kita sering membaca silsilah keturunan para raja yang termasuk sejarah atau silsilah para penguasa yang memerintah suatau daerah, baik yang ditulis pada prasasti maupun benda lain yang artinya bukan hanya untuk dikenal saja, tetapi untuk digaungkan oleh segenap masyarakatnya, dan dikenang akan jasa-jasanya.
Lanjut Baca »

Sang Hyang Tunggal

Tokoh Wayang Sang Hyang Tunggal adalah suami dari Dewi Wiranti putri dari Sang Hyang Rekatatama. Serta ayah dari Batara Ismaya (Semar), Batara Antaga (Togog) dan Batara Manikmaya (Guru).
Lanjut Baca »
Read more...

Beragam Wayang Indonesia

0 komentar

Sebagai salah satu budaya di Indonesia, wayang merupakan karya seni yang harus terus dilestarikan. Bagi rilekser yang ingin menikmati keragaman wayang di Indonesia, tanggal 19-22 Oktober 2011 di Taman Mini Indonesia Indah digelar World Of Wayang (WOW) yang mengambil tempat di gedung Pewayangan Kautaman, Taman Mini Indonesia Indah.
Wayang di Indonesia
Di World Of Wayang ini, akan menampilkan dalang terkenal Indonesia seperti Ki Manteb Soedharsono dan Ki Anom Suroto. Selain itu akan ada lomba-lomba seperti lomba fotografi, lomba cosplay dan juga akan ada kompetisi Dalang Remaja. Yang pasti, semua kekayaan budaya wayang di Indonesia akan ditampilkan di acara ini dan tentunya akan menambah pengetahuan kita terhadap Wayang Indonesia
Wayang adalah sumber inspirasi yang tak ada habisnya dan memungkinkan untuk ditafsir ulang melalui ekspresi artistic yang beragam. Sebagai apresiasi terhadap warisan tradisi, saksikan keberagaman Wayang Indonesia dan ikuti lomba bertema wayang yang membuka ruang-ruamg ekspresi artistic yang bebas, interpretative dalam perspektif kekinian. 
Untuk Rilekser yang ingin menghadiri acara tersebut, bisa mendapatkan informasi lebih lanjut tentang lomba dan jadwal pagelaran wayang dengan mengakses www.wayang.web.id. Yuk, tunggu apalagi, mari kita bersenang-senang nonton wayang di World Of Wayang ini. (dod/ Foto:google)
Read more...
Jumat, 11 November 2011

Wayang Indonesia

0 komentar
Ini adalah sebuah penggalan kecil bagian awal, dari episode drama cerita wayang ‘Boma Nara Sura’ yang sedang saya susun.
Sebuah tragedi cinta segi tiga yang rumit, penuh pengorbanan, dan sangat menghancurkan; karena melibatkan perselingkuhan dengan saudara kandung, ditambah dengan sebuah fenomena ‘titisan’ yang pada masa lampau disebabkan oleh terjadinya suatu skandal yang menggemparkan dan sangat memalukan di dunia kahyangan para dewa-dewa.

Biasanya, drama tragedi cinta selalu berkait erat dengan wanita sebagai korban. Tetapi kali ini, kita berhadapan dengan tokoh laki-laki yang menjadi korbannya….
Tiba-tiba ia diam tertegun, terpaku tegak bagaikan patung batu tak bergerak. Lamat-lamat terbawa sang samirana, terdengar Tembang Sendhon Tlutur yang merujit perasaan di tengah remangnya cahaya bulan purnama yang sendu, membuat bayangan hitam dahan-dahan pohon tua yang kering meranggas di atas tanah datar bebatuan.
Bayangan hitamnya, seakan mencakar langit, seperti jari-jari tangan yang putus harapan, menggapai harapan yang musnah ditelan cerita parwa di alam janaloka. Suara desah resah tembang merana, diterpa suara rebab menyayat, melabuhkan suasana kiamat. Sesekali disentuh lengking bunyi seruling, menggemakan rasa merontokkan sukma. Sekelompok burung camar, terbang di pantai Samodra Utara, melayang terbang terbanting-banting di tengah badai.
Awan hitam kelam bergulung-gulung menakutkan, mengalir berubah-ubah rupa, bagaikan sekawanan jin setan perayangan. Menari membawa petaka di alam raya, menenggelamkan rasa yang hilang tak bermakna. Perlahan bagai tak terasakan, seakan hendak menyembunyikan diri di dalam kelam, terdengar suara tembangnya merana….
Kingkin saya markiyu,
Rinasa saya karasa,
O,
Angantya wuwusing dewa,
Awignam hastu wijil ing lathi,
O,
O,
Riris karasa sajroning nala,
Karasa lir jaka lola,
Kadya riniris rasane,
Mung sira puspitaningsun,
Sesotya pindha pepadhang,
Jroning kalbu salawasnya,
O,
Ri kalanta anglila ingsun,
O,
O. [1]
Terbayanglah, Sang Boma Nara Sura yang gagah perkasa itu, sama sekali tak berdaya saat menghadapi takdirnya sebagai laki-laki. Berdirinya tak kokoh lagi, lemas lunglai raganya, bagai tak bertulang lagi.
Rubuhlah segala daya tubuhnya, tak kuasa menyangga berat raganya. Bumi seakan kiamat, saat mendengar pengakuan Hagnyanawati permaisurinya, yang jatuh hati kepada Samba sang pembawa petaka.
Hari bahagia, seketika berganti dengan badai guntur yang menakutkan. Berita terdengar bagaikan sejuta halilintar menyambar bersama ke bumi dalam sedetik. Meluluh-lantakkan seluruh kekuatan yang semula menopang raganya. Keringat dingin seketika mengalir deras tak tertahankan dari tubuhnya bagai disadap. Lenyap sudah segala yang dimilikinya. Lenyap sudah harga dirinya sebagai seorang penguasa. Lenyap pula kehormatannya sebagai seorang laki-laki….
Bram Palgunadi
Read more...